Mencetak Siswa Unggul

Mencetak Siswa Unggul Menggunakan Keteladanan dan penanaman Pendidikan Karakter : Tantangan Menjadi Peluang

Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Karakter bangsa berakar dari budaya bangsa Indonesia

Jurnal Matematika

Jurnal-jurnal guru matematika yang masuk seleksi dalam penerbitan jurnal Nasional P4TK Matematika Kemensikbus, termasuk jurnal penulis blog yang masuk jurnal nasional P4TK matematika Kemendikbud.

Game Matematika Online

Game matematika online barisan dan deret geometri yang dibuat oleh penulis

Pembelajaran Matematika Berbasis Game

Pembelajaran matematika menggunakan game yang dapat diputar di komputer, HP, dan tabled

Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN KARAKTER DAN KURIKULUM 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN KARAKTER DAN KURIKULUM 2013. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2015

Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013




Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu Aspek Pengetahuan, Aspek Ketrampilan, dan Aspek Sikap dan Perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di Materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb, sedangkan materi yang ditambahkan adalah Materi Matematika. Materi pelajaran tersebut terutama Matematika disesuaikan dengan materi pembelajaran standar Internasional sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di dalam negeri dengan pendidikan di luar negeri.

Pengetahuan
Aspek pengetahuan merupakan aspek yang ada di dalam materi pembelajaran untuk menambah wawasan siswa di suatu bidang. Di dalam struktur kurikulum ini, jenjang SD memiliki bobot pengetahuan sebanyak 20% dan 80% aspek karakter, jenjang SMP memiliki bobot pengetahuan 40% dan 60% aspek karakter, dan jenjang SMA memiliki bobot pengetahuan 80% dan 20% aspek karakter. Kurikulum 2013 memang diintegrasikan dengan pendidikan karakter yang sebelumnya telah dicanangkan pemerintah sebelum terbentuknya kurikulum ini.

Keterampilan
Aspek Ketrampilan bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan siswa dalam membuat, melaksanakan, dan mengerjakan suatu soal atau proyek sehingga siswa dapat terlatih sifat ilmiah dan karakter yang merujuk pada aspek ketrampilan. Aspek ketrampilan dapat berupa ketrampilan pengerjaan soal, ketrampilan pengerjaan dan pelaksanaan proyek, ketrampilan membuat teks, dan ketrampilan dalam menjawab soal lisan.

Sikap dan Perilaku
Aspek penilaian sikap dan perilaku merupakan aspek penilaian dengan menilai sikap dan perilaku peserta didik selama proses pembelajaran. Aspek penilaian ini dinilai oleh guru dalam jurnal harian, teman sejawat dalam sebuah lembaran nilai, dan oleh diri sendiri


Pada tanggal 15 Juli 2013 lalu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), telah ‘menyuarakan’ agar sekolah-sekolah di seantero Indonesia mengimplementasikan kurikulum 2013 (K-13). Ini menambah panjang rentetan sejarah pergantian kurikulum di Indonesia menjadi sepuluh kali. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia antara lain, kurikulum rentjana pelajaran (1947-1968); kurikulum tahun 1947 (rentjana pelajaran 1947), kurikulum 1952 (rentjana peladjaran terurai 1952), rentjana peladjaran 1964, kurikulum 1968, kurikulum berorientasi pencapaian tujuan (1975-1994); kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum berbasis kompetensi (KBK) 2004, kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006 dan K-2013.
Ketika K-13 diterapkan, ada segelintir kalangan yang gelisah, takut, protes, hingga menolak. Pada saat yang sama, ada banyak kalangan yang senang dan menerima adanya implementasi K-13. Meski demikian, penulis tidak ingin membuka ruang kontroversi pada tulisan ini. Penulis pun meyakini  adanya adagium, ‘tidak ada yang kekal di dunia ini, selain perubahan itu sendiri’. Berangkat dari adagium tersebut, hemat penulis perubahan kurikulum bisa dikatakan sesuatu yang wajar. Pasalnya, bila ditilik lebih jauh, maka perubahan dilakukan demi mengatasi kekurangan atau permasalahan pada kurikulum sebelumnya, dimana Kemendiknas telah melakukan pengkajian (Uji Publik) terhadap kekurangan atau permasalahan kurikulum sebelumnya dan hal itu dilakukan demi perubahan yang lebih baik pada K-13.
Adapun dalam Uji Publik tersebut menemukan beberapa permasalahan yang terjadi pada kurikulum 2006 (KTSP) diantaranya: (1) Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (2) Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; (3) Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (4) Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (5) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; (6) Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan (7) Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.
Menarik ketika melihat point ke-3 dari permasalahan diatas. Salah satunya terletak pada pendidikan karakter. Ini berarti Kemendiknas bertujuan menjadikaan pendidikan karakter sebagai prioritas utama dalam K-13. Tak heran bila K-13 sering disebut sebagai kurikulum berkarakter (budaya/bangsa). Lantas, apakah kita  mengklaim kurikulum-kurikulum sebelumnya tidak terdapat ‘pendidikan karakter’?  Tentu tidak! Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Samani Muchlas dan Hariyanto dalam buku Konsep dan Model Pendidikan Karakter (2012:7) bahwa sejak Orde Lama, pendidikan karakter sempat mewarnai kurikulum di Indonesia dengan nama pendidikan budi pekerti yang terintegrasi dalam berbagai bidang studi dengan landasan pengembangan kebudayaan, pendidikan budi pekerti lebih banyak ditekankan pada hubungan antar-manusia, antara siswa dan guru, antara siswa dan orang tua, dan antar siswa”.  Ini bertanda bahwa dalam K-13 ini pemerintah ingin lebih menekankan kehadiran pendidikan karakter.

Urgensi Pendidikan Karakter

Sejalan dengan penjelasan diatas, Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh pun telah menegaskan penting dan mendesaknya pendidikan karakter. Hal itu telah dimulai pada tahun 2011, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Tema peringatan Hardiknas kala itu yakni, ‘Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa’ dengan Subtema ‘Raih Prestasi, Junjung Tinggi Budi Pekerti’. Ini sebagai bentuk ‘concern’ pemerintah terhadap urgennya pendidikan karakter, menyusul adanya perilaku pelajar kita dewasa ini yang kontras dengan tujuan pendidikan yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang SISDIKNAS, yang mengutamakan pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Selain itu, perilaku (attutude) pelajar kita pun tidak sejalan dengan nilai-nilai pendidikan karakter yang oleh Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional dalam Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011) dalam Samani Muchlas dan Hariyanto (2012:52) yang bersumber dari  agama, pancasila budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yakni: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja Keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa ingin tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikasi, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, dan (18) Tanggung Jawab.
Perilaku kontra-nilai-nilai pendidikan karakter ini seiring rendahnya budaya disiplin dan tertib belajar di sekolah, dan di rumah yang semakin menurun, meningkatnya jumlah siswa yang bolos dan absen saat jam pelajaran, meningkatnya kelompok komunitas geng motor yang setiap kali ‘ugal-ugalan’ dijalan-jalan protokol, adanya budaya menyontek hingga plagarisme (plagiat). Selain itu, Tempo Interaktif, 27/8/2009) dalam Samani Muchlas dan Hariyanto dalam buku Konsep dan Model Pendidikan Karakter (2012:2) pun mengemukakan makin meningkatnya tawuran antar- pelajar, serta bentuk-bentuk kenakalan remaja lainnya terutama di kota-kota besar, pemerasan, kekerasan (bullying-red), kecenderungan dominasi senior terhadap yunior dan berbagai fenomena buruknya karakter pelajar kita. Pada kondisi yang redup ini, pendidikan karakter perlu diperkuat di setiap lembaga pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, siapa yang paling berperan dalam memperkuat serta ‘membumikan’ nilai-nilai pendidikan karakter dalam K-13

Peran Guru

Upaya ‘membumikan’ nilai-nilai pendidikan karakter memang membutuhkan peran dan tanggung jawab semua stakeholders, mulai dari pemerintah, orang tua siswa, pemerhati pendidikan, tokoh masyarakat maupun tokoh agama. Namun, tidak berlebihan jika melalui K-13 peran guru pelu lebih diutamakan. Mengingat, guru menjadi ‘aktor’ utama dalam mengimplementasikan K-13 melalui pendidikan formal di sekolah (kelas), sehingga sosok guru sangat dibutuhkan dan begitu penting dalam mengejahwantahkan nilai-nilai pendidikan karakter ke dalam tiga domain atau ranah pendidikan, yakni kognitif (pengetahuan), afektif (sikap, perilaku), dan psikomotor (keahlian atau ketrampilan) dari  output belajar siswa. Tak pelak, guru menjadi tumpuan utama dalam ‘membumikan’ pendidikan karakter, khsusnya melalui ranah afektif dan psikomotor dalam K-2013. Karena harus diakui, selama ini banyak kalangan menilai ranah afektif dan psikomotor seakan ‘mati suri’ ketimbang ranah kognitif.
Betapa tidak, para guru begitu bangga ketika anak didiknya justru mampu menghafal banyak catatan, materi serta konsep-konsep pelajaran yang diajarkan serta menyimpannya dalam otak mereka, ketimbang berinovasi, mempraktikan dan melakukan konsep atau teori yang telah disimpan dalam otak. Tentu, dalam implementasi K-13 ini, sudah saatnya materi serta konsep-konsep tersebut diimplementasikan dalam keseharian peserta didik, baik dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Sehingga ketiga domain tersebut dapat berjalan ‘seimbang’ dan ‘seiring’.  Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana guru melihat dan menilai sikap mupun keahlian peserta didik (pada ranah afektif dan psikomotor) ketika mereka berada dilingkungan masyarakat?
Hal ini agaknya sulit. Namun pada kondisi ini, guru harus mampu melihat dan menilai peserta didiknya, dengan kompetensi sosial yang dimiliki, yakni bagaimana menjaga hubungan baik dengan lingkungan sosial, masyarakat maupun orang tua siswa, serta kompetensi personal yang dimiliki, yakni bagaimana menunjukkan kepribadian (personality-red) dan attitude (sikap-red) yang baik kepada anak didik. Hal ini untuk lebih mengetahui serta menilai perilaku dan ‘tindak-tanduk’ pelajar, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat, dan pada saat yang sama guru pun hadir dan menunjukkan sikap dan teladan yang baik bagi peserta didik.
Tidak hanya sampai disitu saja, peran guru bimbingan konseling (BK) pun tidak bisa diabaikan begitu saja, namun sangat diharapkan. Bila kita mau jujur, selama ini peran guru BK belum maksimal di semua sekolah seantero Indonesia. Hal ini terbukti ada sejumlah sekolah di Indonesia bahkan di NTT belum merekrut tenaga guru BK murni (guru berkualifikasi BK) untuk mengabdi di sekolah. Meskipun ada, kehadiran mereka justeru hanya melengkapi struktur organisasi sekolah dan bahkan ada yang tugasnya hanya membantu menyeleseikan tugas kepala sekolah, dan komite sekolah untuk mengurusi ‘tetekbengek’ sekolah yang jauh dari tugas pokoknya. Sungguh ironis!
Realitas ini berbeda dengan Sistem Pendidikan di negara Finlandia. Lihat saja, Pemerintah Finlandia tidak hanya fokus mempersiapkan tenaga guru yang berkualitas, tetapi juga sangat ‘jeli’ mempersiapkan guru yang secara khusus ‘menangani masalah personal peserta didik dan perilakunya’. Tidak mengherankan bila hal ini menjadi salah satu faktor penentu yang membuat Sistem Pendidikan di sana,  justru diplot sebagai yang terbaik sejagad pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Saya harus mengancungkan jempol dan mengakui keunggulan sistem pendidikan di negara Finlandia, dan itu patut dicontoh dan ditiru. Oleh karena itu, bila kita ingin memperbaiki karakter anak-anak bangsa yang kian hari semakin buruk, bobrok, dan jauh dari nilai-nilai religius maupun nilai-nilai budaya bangsa. Maka, peran guru kelas, guru mata pelajaran dan peran guru BK untuk menangani masalah personal peserta didik dan perilakunya melalui implementasi K-13 adalah mutlak. 


   

18 Jenis Karakter



| Pendidikan dituntut untuk dapat merubah peserta didik ke arah yang lebih baik. Kementerian Pendidikan Nasional telah merumuskan 18 Nilai Karakter yang akan ditamamkan dalam diri peserta didik sebagai upaya membangun karakter bangsa.

  1. Religius, yakni ketaatan dan kepatuahan dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama (aliran kepercayaan) yang dianut, termasuk dalam hal ini adalah sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama (aliran kepercayaan) lain, serta hidup rukun dan berdampingan.
  2. Jujur, yakni sikap dan perilaku yang menceminkan kesatuan antara pengetahuan, perkataan, dan perbuatan (mengetahui apa yang benar, mengatakan yang benar, dan melakukan yang benar) sehingga menjadikan orang yang bersangkutan sebagai pribadi yang dapat dipercaya.
  3. Toleransi, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan agama, aliran kepercayaan, suku, adat, bahasa, ras, etnis, pendapat, dan hal-hal lain yang berbeda dengan dirinya secara sadar dan terbuka, serta dapat hidup tenang di tengah perbedaan tersebut.
  4. Disiplin, yakni kebiasaan dan tindakan yang konsisten terhadap segala bentuk peraturan atau tata tertib yang berlaku.
  5. Kerja keras, yakni perilaku yang menunjukkan upaya secara sungguh-sungguh (berjuang hingga titik darah penghabisan) dalam menyelesaikan berbagai tugas, permasalahan, pekerjaan, dan lain-lain dengan sebaik-baiknya.
  6. Keratif, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan inovasi dalam berbagai segi dalam memecahkan masalah, sehingga selalu menemukan cara-cara baru, bahkan hasil-hasil baru yang lebih baik dari sebelumnya.
  7. Mandiri, yakni sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan berbagai tugas maupun persoalan. Namun hal ini bukan berarti tidak boleh bekerjasama secara kolaboratif, melainkan tidak boleh melemparkan tugas dan tanggung jawab kepada orang lain.
  8. Demokratis, yakni sikap dan cara berpikir yang mencerminkan persamaan hak dan kewajiban secara adil dan merata antara dirinya dengan orang lain.
  9. Rasa ingin tahu, yakni cara berpikir, sikap, dan perilaku yang mencerminkan penasaran dan keingintahuan terhadap segala hal yang dilihat, didengar, dan dipelajari secara lebih mendalam.
  10. Semangat kebangsaan atau nasionalisme, yakni sikap dan tindakan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau individu dan golongan.
  11. Cinta tanah air, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa bangga, setia, peduli, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, budaya, ekomoni, politik, dan sebagainya, sehingga tidak mudah menerima tawaran bangsa lain yang dapat merugikan bangsa sendiri.
  12. Menghargai prestasi, yakni sikap terbuka terhadap prestasi orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri tanpa mengurangi semangat berprestasi yang lebih tinggi.
  13. Komunikatif, senang bersahabat atau proaktif, yakni sikap dan tindakan terbuka terhadap orang lain melalui komunikasi yang santun sehingga tercipta kerja sama secara kolaboratif dengan baik.
  14. Cinta damai, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan suasana damai, aman, tenang, dan nyaman atas kehadiran dirinya dalam komunitas atau masyarakat tertentu.
  15. Gemar membaca, yakni kebiasaan dengan tanpa paksaan untuk menyediakan waktu secara khusus guna membaca berbagai informasi, baik buku, jurnal, majalah, koran, dan sebagainya, sehingga menimbulkan kebijakan bagi dirinya.
  16. Peduli lingkungan, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.
  17. Peduli sosial, yakni sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain maupun masyarakat yang membutuhkannya.
  18. Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik yang berkaitan dengan diri sendiri, sosial, masyarakat, bangsa, negara, maupun agama.
Sumber rujukan : Kementerian Pendidikan Nasional, dalam Suyadi. 2013. Strategi Pemebelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal 8-9.


Silabus Matematika

Silabus merupakan pedoman dalam membuat RPP. Dalam kurikulum 2013, terdapat dua buah silabus yaitu silabus matematika peminatan khusus untuk jurusan MIA. Silabus matematika wajib untuk MIA, IIS, dan IBB.

Silabus matematika SMA  peminatan





Silabus matematika SMA wajib


Rabu, 22 Januari 2014

Mencetak Siswa Unggul Menggunakan Keteladanan dan penanaman Pendidikan Karakter : Tantangan Menjadi Peluang

  A.      Tantangan Ekonomi Global
Indonesia mengalami banyak tantangan di masa mendatang. Beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia, di antaranya globalisasi ekonomi yang ditandai dengan persaingan ekonomi yang semakin ketat,  intervensi teknologi dan ilmu pengetahuan terhadap perekonomian, tuntutan inovasi dan peningkatan pembangunan ekonomi, pergeseran pembangunan ekonomi dari barat ke timur, serta tantangan peningkatan sumber daya manusia Indonesia untuk menghadapi persaingan global.

B.     Kondisi Siswa Indonesia
Program for International Student Assessment (PISA) di bawah Organization Economic Cooperation and Development (OECD) mengadakan survei tentang kemampuan siswa dan sistem pendidikan. PISA menggelar survei ini sejak tahun 2000 dan rutin melakukan survei tiap 3 tahun sekali. Terakhir, survei PISA tahun 2012 lalu yang baru dirilis awal pekan Desember 2013. Survei ini melibatkan responden 510 ribu pelajar berusia 15-16 tahun dari 65 negara dunia yang mewakili populasi 28 juta siswa berusia 15-16 tahun di dunia serta 80 persen ekonomi global.
  Ada 3 kemampuan siswa yang dinilai dalam survei ini, yakni kemampuan matematika, kemampuan membaca dan kemampuan ilmiah (sains) yang mencerminkan sistem pendidikan di negara masing-masing. Selain itu mereka juga ditanyakan motivasi dan kepercayaannya atas sekolah dan pendidikan yang mereka jalani. Para siswa diuji dengan tes di atas kertas yang berlangsung 2 jam. Tes adalah campuran dari pertanyaan-pertanyaan terbuka dan pilihan ganda yang terorganisir dalam kelompok berdasarkan suatu bagian dari kehidupan nyata.
   Temuan menarik dari mayoritas negara yang disurvei, sejak PISA melakukan survei ini lebih dari 10 tahun lalu, kemampuan matematika siswa tidak meningkat. Sekitar 60% dari 65 negara yang berpartisipasi dari survei sebelumnya menunjukkan kemampuan matematika siswa dalam tingkat yang sama atau lebih buruk dari survei 2012 ini. Sedikitnya sepertiga dari semua responden ini bahkan memiliki kemampuan terendah dari matematika (http://news.detik.com/read/2013/12/04/144949/2432402/10/ini-peringkat-kemampuan-matematika-siswa-di-dunia-indonesia-nomor-berapa)
            Hasil survei menunjukkan kemampuan siswa Indonesia di bidang matematika, dan sains menempati nomor dua terendah di dunia. Peringkat PISA merupakan yang paling berpengaruh di dunia dan digunakan untuk mengukur  standar pendidikan di Eropa, Amerika Selatan dan Utara, Australia, Timur Tengah, dan Asia. Mereka mengerjakan sejumlah soal untuk mengukur kemampuan di bidang matematika, sains, dan membaca. Berdasarkan survei tersebut, kemampuan matematika siswa-siswi di Indonesia berada di peringkat 64 dari 65 negara, dengan skor 375 dari rata-rata skor survei di bidang matematika. Di bidang sains, rata-rata skor siswa peserta survei yakni 501. Namun, siswa Indonesia hanya meraih 382. Sedangkan, dalam kemampuan membaca, skor rata-rata siswa seluruh dunia 496. Adapun siswa Indonesia meraih skor 396 (http://acdpindonesia.wordpress.com/2013/12/05/nilai-akademik-siswa-rendah/)

C.     Kualitas Pendidikan di Indonesia
Indeks tingkat pendidikan tinggi Indonesia  dinilai masih rendah yaitu 14,6 persen, sedangkan Singapura dan Malaysia  mempunyai indeks tingkat pendidikan yang lebih baik yaitu 28 persen dan 33 persen. Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, akan melemahkan daya saing Indonesia dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean 2015. Oleh sebab itu,  kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia, dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan melakukan terobosan terbaru dalam sektor pendidikan. Sebenarnya, kualitas SDM di Indonesia sudah cukup bagus, tinggal bagaimana cara pemerintah dan dunia pendidikan mengasah SDM tersebut menjadi SDM yang hebat. Jika kolaborasi pemerintah dan dunia pendidikan sudah kuat, maka Indonesia akan mencetak SDM terbaik setiap tahunnya. Meningkatkan Kualitas SDM dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan adalah solusi tepat yang harus dilakukan agar Indonesia berpeluang menguasai AEC 2015 (http://www.beritasatu.com/pendidikan/144143-kualitas-pendidikan-di-indonesia-masih-rendah.html)

D.    Cara menciptakan Guru Unggul dan Siswa Unggul Serta Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Indonesia
Guru adalah profesi yang mulia dan pemikul tanggung jawab yang berat untuk menciptakan siswa yang unggul. Keunggulan yang dimaksud adalah keunggulan akhlak, keunggulan sosial, dan keunggulan intelektual. Untuk menciptakan semua keunggulan tersebut, seharusnya guru mempunyai ciri-ciri keunggulan tersebut yang akan bisa menjadi teladan bagi siswanya. Jika guru bisa menjadi teladan bagi siswanya, maka diharapkan siswa mempunyai kepercayaan dan kebanggaan terhadap gurunya, sehingga diharapkan transfer kecerdasan dan keunggulan akan lebih mudah diterima anak didiknya. Dalam tulisan ini, yang akan dibahas adalah keunggulan akademik yang harus dicapai siswa, khususnya keunggulan dalam matematika, untuk minimal meningkatkan peringkat matematika Indonesia, meningkatkan SDM dan agar mampu menghadapi dan memenangkan persaingan global.
Sebelum mencetak siswa unggul, sebaiknya guru juga menjadi guru unggul terlebih dahulu. Guru harus banyak membaca, banyak belajar, dan sering mengikuti kompetisi untuk menambah pengalaman, menambah ilmu, dan mengukur kemampuan diri sendiri. Hasil  yang sudah dicapai oleh penulis sebagai guru matematika SMA, di antaranya menjadi penulis soal try out ujian nasional mobile learning tingkat nasional kemendikbud, menjadi guru pendamping kurikulum 2013, dan menjadi juara lomba menulis tutorial pembelajaran berbasis computer blog formulasi LPMP jateng, dan membimbing siswa menjadi finalis olimpiade matematika tingkat nasional, menciptakan alat peraga pendidikan matematika, menciptakan aplikasi pendidikan berbasis hanphone dan komputer yang diterapkan di pembelajaran matematika, dan kegiatan lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

      Penulis menang lomba nasional, dimuat di koran Suara merdeka
  
Prestasi yang diraih guru dapat digunakan sebagai motivasi dan menciptakan kebanggaan kepada siswanya untuk mencontoh jejak gurunya dalam berprestasi. Dari teladan yang nyata, siswa lebih mudah untuk menerima. Termasuk dalam pelajaran matematika di kelas, langkah-langkah pembelajaran yang menjadi budaya ilmiah untuk menciptakan siswa unggul, yaitu :
1.      Guru memberikan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tayangan  video tentang tinggi gedung dan luas tanah. Siswa diajak berpikir bagaimana cara mengukur tinggi gedung  dan mengukur luas tanah tersebut. Mengukur luas tanah dan tinggi gedung adalah masalah sehari-hari yang sering dilihat siswa.
2.      Siswa diminta  membuat team untuk berpikir dan bekerjasama untuk memecahkan masalah tersebut ( Siswa dilatih untuk saling membantu , bertukar pikiran, dan diskusi dalam team. Kerjasama team diperlukan dalam era global untuk memenangkan persaingan global). Setiap team diminta menyampaikan idenya.
3.      Ada team yang mempunyai ide menggunakan penggaris siku-siku, ada team yang menggunakan rumus trigonometri, dan ide yang lain ( siswa dilatih untuk berpikir memecahkan masalah dan mencari ide terbaik). Jika siswa terbiasa berpikir untuk memecahkan masalah, maka jangka panjangnya jika siswa sebagai mahasiswa, sebagai wiraswastawan, sebagai pengusaha, sebagai pegawai,  sebagai pejabat dan sebagai profesi yang lain akan terbiasa dengan cepat mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.
4.      Setelah ide diperoleh, langkah berikutnya siswa dilatih untuk menciptakan alat sendiri untuk mengukur tinggi gedung dan jarak dua tempat. Guru memotivasi dan memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan berdiskusi dengan guru dan teman yang lain.Guru juga sebagai teladan, memberi contoh alat ukur ciptaan guru, sehingga memotivasi siswa untuk menciptakan dan menyempurnakan alat pengukur buatannya. Penanaman sikap untuk berdiskusi, bertanya, dan saling membantu dengan teman satu team, teman lain team, dan dengan guru akan menanamkan budaya berdiskusi, bertanya, dan saling membantu di sekolah, di rumah, sampai kuliah, dan bekerja. Harapannya siswa terbiasa untuk menciptakan ide-ide baru sehingga tercipta alat-alat dan teknologi baru yang berguna bagi masyarakat dan dapat menjadi ladang usaha mandiri bagi siswa. Indonsia lebih sering sebagai pengguna daripada sebagai pencipta. Sudah saatnya Indonesia sebagai pencipta dan innovator dalam teknologi dan mengungguli Negara-negara lain.
5.      Setelah alat tercipta, maka siswa mempraktekkan alatnya untuk mengukur tinggi bangunan dan jarak dua tempat. Misalnya mengukur tinggi gedung sekolah dan mengukur luas lapangan olah raga menggunakan alat ciptaannya sendiri. Team mengadakan evaluasi alat untuk kefektifan dan keefisienannya.Hasil evaluasi untuk mencari kelebihan dan kelemahannya serta untuk penyempurnaan alat. Diharapkan alat  dibuat dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai. Ini melatih siswa untuk memanfaatkan dan mendaur ulang limbah sehingga tercipta alat yang ramah lingkungan. Alat yang tercipta lebih murah biaya pembuatannya dan dapat ditingkatkan kegunaannya melebihi alat pengukur klinometer yang ada. Langkah terakhir tinggal menyempurnakan dan dapat dijual untuk usaha binis yang menguntungkan bagi siswa, guru, dan pihak sekolah. Kalau alatnya teruji dan mendapat hak paten, untuk jangka panjang bisa lebih ditingkatkan dan disempurnakan sehingga dapat diekspor yang akan meningkatkan devisa Negara dan memperkuat perekonomian nasional.
6.      Setelah alat berhasil diciptakan, guru mengajak siswa untuk memecahkan masalah mengukur tinggi gedung dan luas tanah melalui teknologi komputer. Guru memberikan aplikasi computer ciptaan guru yang dapat digunakan siswa beserta cara membuatnya. Setelah siswa mengetahui cara membuatnya, diharapkan siswa dapat mengembangkan lagi aplikasi tersebut, baik melalui membaca buku, diskusi melalui jejaring sosial,  maupun melalui sumber-sumber teknologi di internet. Guru memancing dan memotivasi siswa untuk selalu menciptakan sesuatu yang baru. Budaya berpikir dan bersikap ilmiah dibekalkan kepada siswa agar menjadi orang yang lebih unggul dibandingkan orang lain untuk memenangkan persaingan global.
7.      Setelah siswa menguasai materi matematika, langkah berikutnya guru mengadakan evaluasi. Bentuk evaluasi berbentuk aplikasi soal di handphone yang sudah dibuat oleh guru dan dapat dikirimkan ke siswa melalui Bluetooth atau kabel data. Soal juga bisa dibuat dalam bentuk game matematika yang akan menarik minat siswa dalam mempelajari matematika. Harapannya, siswa akan tertarik dan senang dalam mempelajari matematika. Jika siswa senang mempelajari matematika, maka prestasi belajarnya juga akan meningkat yang akan berimbas pada peningkatan peringkat matematika Indonesia di dunia internasional. Di samping itu, budaya ilmiah akan meningkatkan kemampuan science para siswa yang dapat digunakan dalam menghadapi persaingan global.
Setelah mengetahui aplikasi dan game pembelajaran matematika yang sudah dibuat guru, harapannya siswa tertarik untuk membuat dan mengembangkan aplikasi di HP, game di HP dan komputer. Diharapkan akan lahir siswa-siswa yang unggul dalam teknologi HP dan Komputer. Kalau teruji dan hasinya bagus dan diminati masyarakat, dapat dipasarkan dan menjadi usaha bisnis yang prospektif dan menguntungkan dan dapat mengungguli produk impor yang sudah menyerang dan menguasai pasaran dalam negeri. Jika Indonesia tidak bangkit untuk menjadi innovator dan pencipta, selamanya akan menjadi pengguna produk Negara lain sehingga devisa akan masuk ke Negara lain. Hal ini akan memperlemah perekonomian Indonesia. Sebaliknya jika Indonesia bangkit menjadi Negara pencipta yang dimulai dari budaya ilmiah dan budaya pencipta di bangku sekolah, maka produk ciptaan yang bagus dan sudah teruji akan laku di dalam negeri dan dapat menyaingi produk luar negeri, bahkan kalau mungkin menjadi Negara pengekspor teknologi dunia, sehingga devisa Negara akan masuk ke Indonesia, dan pada gilirannya akan memperkuat ekonomi Indonesia dan dapat memenangkan persaingan global. Akhirnya tantangan ekonomi global akan menjadi peluang yang menguntungkan. Ini baru dibahas satu sisi. Sisi-sisi  yang lain juga harus dikembangkan dan dimaksimalkan untuk mengubah tantangan berat menjadi peluang yang menguntungkan. Kita harus bersama-sama minimal mengubah pola pikir dan berjuang bersama. Hal ini dapat tercipta, salah satunya dengan adanya motivasi para guru untuk menjadi guru unggul yang akan menciptakan siswa unggul. Siswa unggul akan menjadi penerus bangsa untuk memperkuat perekonomian nasional melalui karya-karyanya yang inovatif dan berdaya saing tinggi. Keunggulan tersebut tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi harus diperjuangkan dan dievaluasi secara terus menerus secara bersama-sama oleh semua pihak.
Untuk scope yang lebih luas,  di sekolah penulis,  di SMA Kesatrian 1 Semarang yaitu para guru membuat wadah untuk menggodok kemampuan para siswa dan bersama-sama menciptakan produk-produk yang inovatif. Di samping itu, siswa juga dilatih untuk berkompetisi dalam lomba-lomba yang ada, termasuk gurunya juga mengikuti lomba-lomba guru dan lomba umum. Hal ini sebagai latihan untuk menghadapi persaingan global. Sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Jika kita terbiasa untuk bersaing dari tingkat sekolah, meningkat ke tingkat kota, tingkat propinsi, kemudian bisa bersaing di tingkat nasional, maka puncaknya kita siap untuk bersaing di tingkat global antar negara di dunia.
Produk inovatif yang sudah dibuat di sekolah penulis, dalam bidang matematika,  membuat alat peraga dan alat pengukur, membuat aplikasi pembelajaran di HP dan komputer. Dalam bidang biologi dan kimia,  membuat pupuk cair unggulan, membuat media pepak tanaman, membuat produk  sirup jahe merah dan jeruk, membuat jamu, dan membuat teknologi tepat guna dalam budidaya tanaman. Dalam bidang fisika,   membuat teknologi pengecoran beton. Keempat bidang tersebut sudah memenangkan kompetisi dari tingkat kota sampai tingkat nasional. Dalam bidang seni, sudah memenangkan sampai tingkat nasional, dan dalam bidang olah raga sudah memenangkan sampai tingkat internasional.
Harapannya, semua guru dan siswa di semua sekolah melakukan hal yang sama mulai dari tingkat sekolah masing-masing, kemudian meningkat ke tingkat kota / kabupaten, ke tingkat propinsi, dan dilakukuan secara nasional. Hal ini senada dengan penerapan kurikulum 2013  di sekolah. Jika hal ini dapat tercapai, maka akan meningkatkan sumber daya manusia Indonesia dan berpengaruh terhadap peningkatan standar dan kualitas pendidikan di Indonesia. Peningkatan tersebut akan mampu menghadapi tantangan ekonomi bebas dan pergeseran ekonomi ke asia termasuk Indonesia. Kemampuan menghadapi tantangan global akan  mampu merubah tantangan menjadi peluang yang menguntungkan, sehingga akan berpengaruh secara signifikan secara nasional terhadap kemajuan pendidikan ,teknologi, dan ekonomi di Indonesia. Semua bidang dapat menciptakan teknologi dan produk yang inovatif yang dapat digunakan untuk memenangkan persaingan  global. dan memperkuat ekonomi nasional.  Butuh motivasi kuat, semangat menyala, dan perjuangan terus menerus, inovasi tiada henti, dan doa untuk meraih hal tersebut.
Jika anda pikir bisa, maka anda pasti bisa . Ciptakan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Semoga Indonesia selalu jaya.

Bio data penulis :
Nama :  Sugeng Nugroho, S. Pd, M. Si
Profesi : Guru matematika SMA Kesatrian 1 Semarang, Guru Pendamping Implementasi Kurikulum 2013, Penulis soal try out UN Mobile Learning Tingkat Nasional BPMP Kemendikbud
Email      : sug_nug@yahoo.com
No HP   : 0818292061
SMA Kesatrian 1 Semarang, Jl. Pamularsi 116 Semarang, telp. 024-7606150